Itil Practitioner
agen sbobet
.. .. .. ..

Mbak iin Yang seksi dan menggairahkan…

Friday, July 17th, 2015 - Bugil, Hot, Video
Itil Support

Cerita Hot, Cerita dewasa, Cerita seks – Mbak iin Yang seksi dan menggairahkan…


Rumah Pak Karsa sedang saja besarnya, kalo rumah BTN kira2 tipe 54 gitulah. Tapi karena ini bukan kompleks perumahan, hanya perumahan penduduk biasa, jadi letaknya tak teratur. Keluarga Pak Karsa hanya 3 orang, dia sendiri, Bi Iin isterinya, dan Lia anak gadis semata wayangnya yang SMU kelas I. Pak Karsa hanya pegawai kecil di sebuah perusahaan swasta yang jam kerjanya dari jam 7 pagi sampai 7 malam. Bu Karsa, isterinya, biasa dipanggil oleh anak2 kost Bi Iin adalah ibu rumah tangga biasa, tak bekerja. Untuk menambah penghasilan, Pak Karsa merenovasi rumahnya dengan menambah 3 kamar sederhana untuk disewakan, 2 kamar disamping rumah dan satu lagi agak dipaksakan di lantai 2 di atas dapur. Kamar yang di atas inilah yang aku sewa untuk tempat kostku. Sebenarnya ada 2 kamar di atas yang berlantai kayu, Yang besar aku pakai dan yang kecil di pakai gudang. Walaupun kamarku kecil, hanya 3 X 3 tapi nyaman, udara mengalir dengan baik dan ada jendela lebar yang menghadap ke belakang dengan pemandangan “lembah” lepas jauh.

Dengan izin Pak Karsa, aku bisa menempatkan barang2ku seperti koper, buku-buku lama, dan barang lain yang tak digunakan sehari-hari di gudang samping kamarku itu. Aku betah tinggal di sini, selain dekat dengan tempat kuliahku di jalan Dago, juga mereka bertiga semuanya ramah. Ruang lain di lantai atas adalah ruang jemuran yang setengah terbuka. Yang sering ke lantai atas hanya pembantu yang setengah tua itu dan sesekali Bi Iin. Bi Iin dan Lia, anak satu2nya bak pinang di belah dua baik wajah, kulit dan bentuk tubuhnya. Perbedaannya hanyalah Bu Iin sedikit lebih gemuk, Lia lebih tinggi sedikit, dan umurnya tentu saja. Mereka berdua berkulit langsat bersih seperti layaknya orang Sunda, berwajah biasa2 saja. Tubuh Lia lumayan tinggi (di kemudian hari saya tahu 168 cm, lebih tinggi 1 cm dibanding tinggiku) dan kakinya panjang. memang tubuh ideal. Bi Iin 165 cm dan masih tampak “bentuk gitarnya” dengan dada yang menonjol, sedangkan dada Lia biasa2 saja. Terus terang aku naksir sama Lia yang ramah ini. Walaupun tubuh Bi Iin lebih matang dan menggiurkan, aku tak mencoba untuk naksir, sebab selain aku menaruh hormat sama dia (karena baik banget), juga seleraku hanya kepada wanita yang lebih muda saja. Jadi, Lia-lah sasaranku.

 

Kaki Lia sungguh indah. Panjang, putih dan mulus dengan dihiasi bulu2 halus, apalagi pahanya. Aku sangat menikmati kalau ngobrol dengannya di ruang tengah atau di ruang tamu. Lia kalau di rumah senang mengenakan Tshirt ketat dan celana pendek. Ngobrol sambil sesekali mencuri pandang ke paha mulus berbulu halusnya. Aku engga tahu apakah Lia udah punya pacar atau belum, kawannya banyak. Kenal makin dekat sama Lia membuatku semakin bernafsu untuk menggeluti tubuh idealnya. Faktor lain yang membuatku bernafsu adalah aku yakin Lia masih perawan. Terus terang aku bukannya belum pernah berhubungan seks. Walaupun masih kuliah, aku pernah berhubungan seks sengan 2 orang, tapi baru sekali merasakan perawan. Yang pertama, keperjakaanku kuserahkan kepada mahasiswi perguruan tinggi swasta yang sudah tak perawan lagi. Beberapa kali aku menikmati seks sama dia sampai dia dropp-out dan akhirnya “jualan” diri.

Hubunganku putus. Yang kedua, ini yang menarik, dengan sahabatku, teman kuliah seangkatan (2 th lebih muda dariku). kami sebenarnya hanya teman akrab saja, sering belajar bersama, bahkan tidur bersama (tidur beneran lho !), dia sering menginap di kamarku kalau kami mengerjakan tugas sampai larut malam. Juga aku sering menginap di kamarnya, tapi tak terjadi “apa-apa”, orang cuman sahabat erat. Setelah 2 tahun amat dekat, terjadilah …. Aku benar2 terharu dia dengan ikhlas menyerahkan segalanya kepadaku dan tak menyesalinya. Hubungan seks dengan perawan dan disusul hubungan2 berikutnya memang luar biasa nikmatnya ! (Kisah dengan sahabat ini kalau sempat akan aku tulis tersendiri). Kembali ke Lia. Aku begitu bernafsu ingin menyetubuhi Lia karena sudah pernah mengalami nikmatnya perawan. Hanya, kesempatannya yang belum kudapatkan, sampai pada suatu saat …. Pagi-pagi sekitar jam 6 lewat, Aku mencari-cari buku lama yang kutaruh di gudang. Letak buku2ku rupanya ada yang memindahkan. Aku harus memindahkan peti milik Pak Karsa untuk mencapai barangku dalam gudang yang sempit dan tak berlampu itu. Dengan susah payah kugeser peti yang lumayan berat itu, dan dari bawah peti, seberkas kecil sinar yang sumbernya dari lantai bawah menarik perhatianku. Kuintip ke bawah, tak begitu jelas. Nakalnya, aku mulai mengorek dempul di antara 2 papan lantai gudang itu agar pandangan ke bawah lebih jelas, kamar mandi ! Kamar mandi siapa ? Aku coba me-reka.

Kamarku tepat di atas dapur, terus gudang ini di sebelah agak ke depan dari kamarku. Jelas, ini kamar mandi keluarga Karsa ! Untung aja bukan kamar mandi anak kost di bawah yang dua2nya batangan. Berarti, aku punya peluang buat mengintip Lia lagi mandi ! Kuintip ke bawah lagi, persis di atas bak air. Lagi engga ada orang. Kukorek lagi dempul itu agar mendapatkan posisi “strategis”, bisa mengamati ruang buat mandi. Berikutnya, kuatur barang2 di gudang supaya aku dapat ruang yang nyaman buat mengintip. Membayangkan Lia yang lagi mandi disitu dan akan tampak jelas tubuhnya dari depan atas, penisku ngaceng. Tapi lubang itu tampak nyata sehingga orang yang masuk gudang akan tahu ada lubang di situ, sebab berkas sinar dari bawah makin jelas. Ada akal, tindih aja pakai peti, sewaktu diperlukan tinggal menggeser petinya. tapi kenapa musti pakai peti ? Akhirnya lubang itu aku tutup aja pakai kardus yang berisi barang2 ringan supaya mudah menggesernya. Beres. Kalau pintu gudang itu selalu tertutup, mudah2an lubang buatanku itu tak tampak dari bawah. Beberapa menit aku nongkrong di gudang berharap Lia akan mandi, penantian yang sia-sia.

Sekarang hampir setengah tujuh, jelas aja Lia udah berangkat sekolah. Kubersihkan bekas korekan dempul lalu tutup lubang itu dengan kardus, aku keluar. Baru beberapa menit aku membaca buku di kamar, kudengar pelan suara guyuran air di bawah sana. Nah ! Bergegas aku ke gudang, tapi ragu-ragu. jelas bukan Lia yang mandi, mungkin Bi Iin. Ah engga enak lah. Ada rasa segan mengintip tubuh wanita molig yang kuhormati itu. Kuurungkan niatku, aku balik ke kamar. Suara guyuran air itu membuatku membayangkan Lia yang mandi dan “adik”ku berdiri lagi …. Pikiran kotorku segera muncul, Lia dan Ibunya kan sama2 “gitar”, sama2 mulus dan indah, bahkan ibunya punya buah dada yang lebih besar, kenapa engga dicoba ? Kan cuma mengintip aja. singkirkan dulu rasa hormat itu. Okey, aku ke gudang lagi, menyingkirkan kardus dan mengintip. Sialan ! Pak Karsa rupanya. sekejap kemudian aku balik ke kamar lagi. Tapi aku mendapatkan kenyataan bahwa posisi mengintipku memang benar2 strategis. Besok pagi aku harus bangun lebih pagi. Suatu tugas yang berat sebab aku biasa bangun siang. Tapi demi tubuh Lia yang mulus menggairahkan .. Esok harinya aku dibangunkan waker tepat jam 6. Sejenak aku mikir, kenapa aku setel waker pagi2 benar ? Suara guyuran air itu yang mengingatkanku.

Cepat2 aku ke gudang, menyingkirkan kardus, menutup pintu gudang, dan mengintip. Sialan lagi ! Memang benar Lia yang lagi mandi, tapi sudah selesai. Aku hanya sempat menikmati bahu dan punggung mulusnya dan sedikit belahan di dada. Tubuh mulusnya sudah tertutup handuk dan siap mau keluar. Besok harus lebih pagi ! Hari berikutnya, mungkin karena takut telat bangun, jam 4 pagi aku sudah melek. Dan jam 5 tepat aku sudah ambil posisi di gudang yang tertutup, menunggu. Kira2 setengah jam aku menunggu, pertunjukan dimulai … Lampu kamar mandi menyala, berkas sinar masuk, aku bersiap. Benar Lia dengan Tshirt dan celan pendek masuk. Aku berdebar.

 

m.rbo88.com

Dibuka kaosnya melalui kepala sehingga tampaklah BH warna cream. Belahan susunya makin jelas ketika dia menunduk melepas celana pendeknya. Dan makin jelas lagi ketika BHnya dia lepas juga. Wow .. susunya ! Ukurannya sedang2 aja, mungkin sekitar 34, tapi benar2 membulat. Ujung buah dadanya bulatan coklat yang amat kecil dan putingnya begitu kecil hampir tak tampak. Khas buah dada seorang ABG. Putih dan mulusnya …. CD warna cream dilepas juga. Jembutnya hanya sedikit diujung selangkangannya. Tadinya aku mengharapkan lebatnya jembut, sebab kaki dan lengan Lia berbulu. tapi justru aku bisa menikmati gundukan kewanitaan Lia yang mulus. Penisku tegang. Kupelorotkan kolor celana pendekku dan mulai mengelus-elus batangnya. Di rumah Aku memang biasa memakai oblong dan celana kolor pendek tanpa CD. Aku mulai mengocok waktu Lia menyabuni tubuh mulusnya. Kocokan tambah cepat ketika dia dengan agak lama menyabuni sepasang buah dadanya, sambil meremas-remas seolah memang sengaja merangsangku. Sampai akhirnya aku tak bisa menahan lagi untuk menyemprotkan air maniku ketika Lia mengucel-ucel susunya dengan handuk ….. Sejak itu, mengintip Lia mandi menjadi “tugas pagi”ku yang rutin. Kadang sampai muncrat, seringnya hanya “menggantung”. Kalau tak bisa “nyampai” begini, aku meneruskan kocokanku di kamar sambil berkhayal menyetubuhi Lia. Tak enak memang kalau hanya “menggantung” saja.

Begitulah kerjaanku hampir setiap hari, sampai pada suatu pagi seseorang memergoki tingkah rutinku …. Rutinitas membuat jenuh. Pagi itu sehabis ngintip Lia aku tak berhasil orgasme. Maklum, pemandangan yang sama dan rutin, mengurangi efek rangsangan. Aku benar2 ingin meningkat dengan menyetubuhi Lia, tapi kayanya tak mungkin …. Gagal mencapai puncak, kusimpan kembali penisku lalu duduk di kasur. “Nak Wo” Seseorang memanggilku, kayanya suara Bi Iin, Isteri Pak Karsa. “Ya Bi” “Bibi ingin bicara, boleh masuk ?” Bergegas aku berbenah diri, untung penisku udah cukup surut sehingga tak menonjol di kolor tanpa CDku. Aku membuka pintu, di depanku berdiri Bu Iin dengan dasternya seperti biasa. wajahnya kelihatan lebih segar, jadi makin tampak putih. Daster yang biasa dipakai itu memang agak ketat, cukup menonjolkan lekukan tubuhnya. “Silakan masuk Bi” kataku hormat. “Tumben, pagi2, ada apa Bi” lanjutku. Bi Iin masuk, menutup kembali pintu kamarku, dan duduk di kursi belajarku, satu2nya kursi yang tersedia. Aku kembali duduk di dikasurku menyender ke dinding. Aku memang sengaja tak menggunakan dipan, hanya tikar rotan dan kasur yang dibentang di lantai kayu. Bi Iin duduk menghadapku menyilangkan kakinya. Karena posisiku lebih rendah, aku “terpaksa” mengamati sepasang kaki Bi Iin. Ternyata indah juga. Mirip kaki Lia, panjang putih dan mulus dengan hiasan bulu2 halus. Aku sama sekali tak pernah mengamati Bi Iin, karena memang minatku pada anaknya.

Baru kali ini aku menikmati kaki indahnya. “Gini nak ..” tak berlanjut. diam agak lama. “Kenapa Bi ?” “Bibi mau bicara langsung saja ya …” Tiba2 aku berdebar. Ada apa nih, mungkinkan dia menyuruhku pindah sebab aku dengar ada keponakannya yang baru masuk Unpad dan cari tempat kost ? Semoga jangan deh, aku udah amat betah di sini, lagian aku bisa kehilangan Lia mandi … “Bibi tahu apa yang Nak Dowo kerjakan tiap pagi” suaranya pelan, halus, tapi bagi telingaku bagai petir di cuaca buruk, menggelegar. Memang sudah hukum alam, barang busuk toh akhirnya tercium juga. Aku tak menjawab, hanya tertunduk malu, amat malu. bayangkan, orang yang aku hormati ini tahu setiap pagi aku mengintip anak gadisnya mandi … “Kenapa Nak Wo lakukan ?” “Hmm.. eh …” gugup banget, keringat dingin. “Kenapa nak ?” “Maafkan saya Bi …” hanya itu.

Dia diam menunggu kalimatku berikutnya. “Lia kan Nak anggap adik sendiri” lanjutnya lagi setelah aku membisu. “Benar Bi, mohon Bibi maklum” “Maklum apa” “Umur saya sudah cukup untuk menikah, tapi sekolah belum selesai, jadi saya suka me …itu” “Masturbasi maksud Nak wo ?” langsung aja si Bibi ini. “Benar Bi, saya hanya membutuhkan rangsangan untuk melakukan itu” lancar aja jawabku sekarang. “Okey, bibi bisa memaklumi, cuman Bibi khawatir kalau nak Wo keterusan trus berbuat ke Lia” “Engga dong Bi..”sahutku cepat. “Okey, janji ya ?” katanya sambil bangkit dan ikut duduk di kasur di sebelahku. “Lia itu masih kecil dan belum pernah kenal lelaki” Benar juga dugaanku, Lia masih perawan. “Saya janji Bi” “jangan teruskan ya” “Baik Bi. Bibi enga bilang bapak kan ?” “tergantung” “Tergantung apa Bi” tanyaku sambil mulai berani memandang wajahnya, ingin tahu. Aduuhh … Daster Bibi berkancing di tengah-tengah dadanya. Diantara dua kancing itu ada tepi kain yang menganga menampakkan sedikit bulatan daging putih, tepi buah dada Bibi. Dasar kurang ajar, udah dimarahin masih sempat juga mencuri pandang ke dada montok bibi … “Ada syaratnya” Katanya sambil meluruskan kaki dan menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Tepi dasternya sedikit tersingkap menampakkan sedikit paha yang amat putih … “Apa Bi ?” Mendadak penisku mulai menggeliat. celaka nih, aku tak pakai CD. “Satu, kamu tak boleh mengulangi lagi” “Saya kan udah janji Bi” “Dua, jangan sekali-kali mengganggu Lia” “saya udah janji juga Bi” “Tiga ……” Diam. Lagi2 aku memandangnya menunggu.

Bibi masih membisu, menatap tajam mataku. Aku “ngeri”, mataku sedikit ke bawah menghindari tatapannya, justru menemukan pemandangan lain. Dada besar Bi Iin bergerak naik-turun seirama alunan nafasnya yang ternyata mulai memburu ! Ada apa nih ? “Yang ketiga apa Bi” Bi Iin masih diam, masih tajam menatapku, nafasnya tambah ngos-ngosan. Aku makin bingung ! Tiba2 Bi Iin melepas kancing dasternya yang paling atas, perlahan tapi pasti lalu kancing kedua, dan stop. Belahan dada putih itu terhidang di depanku. belahan “dalam” yang menunjukkan bulatnya buah kembar disamping kiri dan kanannya. Penisku makin tegang ! Masih menatap tajam, diraihnya tanganku dan dituntunnya ke belahan itu. Aku langsung merasakan lembutnya dada Bibi. Bi Iin menginginkanku ? tapi aku kurang yakin, tanganku masih pasif menempel di dada. “Yang ketiga … asal Nak mau sama Bibi …” barulah aku yakin. Tanganku langsung bergerak menyusup dan meremas. baru aku menyadari ternyata Bi Iin tak memakai BH. Kenapa tak kulihat dari tadi ? Memang engga ada niat sih. Sekarang sih berminat, kontolku udah ngaceng ….. “Ooohhhhh …. terus Nak ….” Reaksinya ketika aku makin semangat meremasi dadanya. Benar2 dada istimewa, besar, lembut halus, putingnya sudah mengeras, tapi tentu saja tidak sekenyal dada sahabat sekuliahku yang kuperawani. Bibi merebahkan tubuhnya ke kasur terlentang.

Aku langsung menindih tubuhnya. Empuk …. Kedua tangannya meraih kepalaku dan kami lalu berciuman, ciuman panas, lidah bibi begitu “ganas” mengerjai mulutku. Tangannya ke bawah memelorotkan kolorku dan langsung menggenggam penisku. dilepaskan ciumannya dan matanya melirik ke bawah. “Punya nak Wo panjang ….” Kusingkirka tepi2 kain dasternya sehingga buah dadanya secara utuh terbuka, lalu kuserbu dengan mulutku. Dengan gemas bukit kembar itu aku ucel-ucel. Bibi mengerang menikmati ucelanku. Tapi melarangku untuk menggigiti buahnya. “Entar berbekas Nak …” Benar juga. Tanganku juga kebawah menyingkap dasternya dan menelusup CDnya. Basah … kupermainkan itilnya dengan ujung telunjuk. “Ooooghhhh …. Naaaak ….” Tak hanya itilnya, jariku terus ke bawah, menusuk. “Oow !, pelan-pelan dong” Cepat2 kutarik jariku, lalu menusuk lagi, perlahan. “Aahhhhhh … sedaaap …” Liang vaginanya makin membasah. Tiba2 Bi Iin menolak tubuhku, jariku terlepas. Bibi langsung melepas kolorku, penisku mencuat. “Ayo …. masukin … sekarang …” Kulepas dasternya dan kupelorotkan CD, jembutnya tebal, itilnya menonjol gede … Tapi lubangnya kok engga kelihatan ? Tubuh telanjang Bi Iin tergolek dengan kaki membuka lebar. Masa sih … liang itu begitu sempit ? Kubuang oblongku. Kutempatkan kedua lututku di antara pahanya yang mengangkang, kutempelkan penisku di bawah clit-nya. “Pelan-pelan .. ya … Nak …. Bibi udah lama engga ..” “Iya Bi” Udah lama engga ? Aku mulai menusuk. “oooh …….” Busyet, mentok Tekan lagi dengan menambah tenaga. Uuhh, sempitnya. Rasanya aku tak percaya. Wanita matang berusia sekitar 35 tahun ini kok punya liang vagina yang sempit banget. Sambil menggoyang pinggul, aku menambah tenaga tusukanku lagi. Nah, masuk deh. “Aaaaaaahhhhhh …. sedaaaaapppp ..” Tusuk lagi sampai penisku tertelan habis. Terasa banget jepitan dinding vaginanya dan di ujung sana terasa ada “tembok” yang mengelusi kepala penisku. Aku mulai memompa.

Pompaanku dibalas. pinggulnya bergerak-gerak “aneh” tapi efeknya luar biasa. Penisku serasa dilumati dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi. Ketika pinggulnya berhenti dari gerakan aneh itu, tiba2 aku merasakan jepitan teratur di dalam sana, sekitar 4 – 5 kali denyut menjepit, baru bergoyang aneh lagi. Wah, tak kusangka, sedap juga wanita dewasa ini. Menyesal aku karena selama ini tak memperhatikannya. Wanita dengan wajah yang biasa2 saja, tubuh molig, punya ketrampilan berhubungan kelamin yang istimewa .. Gerakan anehnya makin bervariasi. terkadang aku malah meminta Bi Iin berhenti bergoyang buat menarik nafas panjang. Lumatan dinding2 vaginanya pada penisku membuatku geli2 dan serasa mau ‘nyampe’. Aku tak ingin cepat2 sampai, masih ingin menikmati “elusan” vagina. Tapi Bi Iin makin galak, gerakannya makin liar …. Hingga aku menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi. Justru aku makin cepat bergerak mengimbangi goyangan pinggulnya. Aku sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat2 yang paling nikmat …

Dan akhirnya …. pada tusukan yang terdalam, kusemprotkan maniku kuat2, aku mengejang, melayang … , menggetar ….. Pada detik-detik aku melayang tadi, tiba2 kakinya yang tadi mengangkang, diangkat dan menjepit pinggulku kuat2. Amat kuat. Lalu tubuhnya mengejang beberapa detik mengendor dan trus mengejang lagi … “Aaaaaaaahhhhhh” Bi Iin benar2 teriak. Aku khawatir teriakannya terdengar sampai lantai bawah, makanya kututup mulutnya dengan mulutku. Beberapa detik dia histeris. lalu jepitan kakinya terasa mengendor. Kakinya jatuh ke samping. tangannya juga. rebah dan lemas …. “Terima kasih Naak …” pipiku diciumi. “Saya juga Bi …. Bibi sedap banget” kataku jujur. “Ah mas … Nak Wo bukan main” “Kenapa Bi ?” “Udah lama Bibi puasa lho…” “Ah masa” “Benar” “Emangnya Bapak …” “Pagi udah berangkat, pulangnya malem, udah lama engga menyentuh Bibi” “Bibi jangan bilang ke Bapak ya” “Iyaa dong, gila apa” “Maksud saya, tentang mengintip itu…” “Jangan khawatir, asal …” “Syarat yang ketiga ? syarat yang nikmat begini sih okey aja” potongku. Bi Iin langsung menciumi mukaku.

Dari pengalamanku bersetubuh dengan bi Iin, aku mendapatkan pelajaran baru yang bisa mengubah persepsiku tentang wanita : Umur belasan atau tigapuluhan ternyata sama nikmatnya, tergantung ketrampilannya dalam bermain.
CERITA HOT BERGAMBAR DAN SEKSI

Incoming search terms:

  • cerita janda seksi
  • cerita ngentot janda seksi
  • cerita seks janda seksi
  • janda menggairahkan
  • ngentot iin
  • iin ngentot
  • cerita seks menggairahkan
  • janda seksi ngentot
  • cerita ngentot iin
  • tante iin yg seksi
Mbak iin Yang seksi dan menggairahkan… |
Itil Reviews
jandamesum
| 4.5